Lelahnya Mati Lampu Setiap Hari

 Malam di Kampung Sukamaju tak pernah lagi sama sejak kata "pangkas anggaran" menjadi hidangan harian di berita televisi. Tepat pukul sembilan malam, seperti yang sudah-sudah, detak kehidupan seolah dipaksa berhenti seketika.

Zzz-pet.

Kipas angin besi tua di atas lemari kamar Pak Hendra mendecit pelan sebelum akhirnya baling-balingnya berputar makin lambat dan berhenti total. Suara dengung rendah dari kulkas satu pintu di dapur mendadak lenyap. Detik berikutnya, kegelapan pekat menelan seluruh ruangan, menyapu habis sisa-sisa cahaya kuning dari bohlam hemat energi lima watt yang terpasang di langit-langit.

Dari balik jendela kayu yang terbuka separuh, terdengar koor keluhan serentak dari rumah-rumah tetangga. Suara "yahhh..." bernada berat dan lelah berdesir di antara lorong-lorong sempit pemukiman, disusul tangis bayi yang terbangun karena hawa gerah yang mendadak menyerang.

Pak Hendra menghela napas panjang. Desahan nafasnya terasa berat, membawa beban kepenuhan yang menumpuk di dadanya sepanjang hari. Dengan gerakan yang sudah di luar kepala—karena terbiasa melakukannya hampir setiap malam—jemarinya meraba-raba permukaan meja kayu yang kasar. Ia mencari dua benda yang kini menjadi pertahanan utama mereka di malam hari: batang lilin murah dan sekotak korek api kayu.

Srek.

Bunga api menyala kecil, menerangi wajah Pak Hendra yang dipenuhi garis-garis kerutan mendalam di sekitar mata dan dahinya. Cahaya oranye memancar pelan, melemparkan bayangan tubuhnya yang tinggi kurus ke dinding kapur yang mulai mengelupas. Lelehan pertama paraffin panas menetes ke atas tutup botol kecap bekas, menjadi landasan agar lilin bisa berdiri tegak. Bau khas lelehan lilin dan asap kayu terbakar langsung menyeruak, bercampur dengan hawa panas kelembapan malam tropis yang mengurung rumah beratap seng itu.

Di meja makan yang merangkap meja belajar, Rian, anaknya yang berusia sembilan tahun, tertegun dengan pensil masih tertancap di atas buku tulis. Garis-garis tugas matematika yang sedang dikerjakannya mendadak mengabur di bawah bayang-bayang temaram.

"Bapak... kok mati lampu lagi sih?" tanya Rian pelan. Suaranya tidak lagi menunjukkan kemarahan, melainkan kepasrahan yang terlalu dini untuk anak seusianya. Ia menyapu peluh yang menetes dari dahinya menggunakan lengan kaosnya yang sudah basah oleh keringat. "Kemarin kan sudah mati lampu dari jam enam sore sampai jam sembilan. Masa sekarang mati lagi?"

Pak Hendra menarik kursi kayu di seberang Rian, lalu duduk perlahan. Tubuhnya yang pegal-pegal setelah seharian membanting tulang di toko bangunan makin terasa kaku. Ia menatap mata anaknya yang berbinar kecil memantulkan api lilin.

Bagaimana cara menjelaskan krisis makroekonomi kepada seorang anak SD? Bagaimana menjelaskan bahwa bayangan utang luar negeri yang menumpuk ribuan triliun rupiah telah menggerogoti kas negara hingga ke dasar-dasarnya?

Siang tadi, saat istirahat makan siang di warung kopi, radio transistor tua milik pemilik warung terus membacakan berita yang sama: pembayaran bunga utang negara membengkak drastis. Pemerintah terpaksa mengambil kebijakan ekstrem dengan memangkas subsidi energi habis-habisan. Impor bahan bakar untuk pembangkit listrik dikurangi, pasokan batubara dialihkan untuk ekspor demi meraih devisa penutup utang, dan akibatnya—pembangkit-pembangkit listrik milik negara terpaksa bergantian mematikan turbin. Pemadaman bergilir harian menjadi norma baru yang dipaksakan.

"Negara kita lagi banyak 'bon' di luar, Nak," ujar Pak Hendra akhirnya, memilih bahasa paling sederhana yang bisa ia pikirkan. "Sama kaya kalau Bapak punya utang banyak di warung Mbok Sum. Kalau uang Bapak habis buat bayar utang, Bapak terpaksa mengurangi beli beras dan telur. Nah, negara kita juga begitu. Uangnya habis buat bayar bunga utang, jadi subsidi listriknya dikurangi. Listriknya jadi harus dihemat dan bagi-bagi sama kota lain."

Rian menatap lilin yang apinya bergoyang tertiup angin malam yang menerobos lewat celah angin. "Tapi Pak, kenapa bukan rumah-rumah gedung besar di jalan raya itu aja yang dimatikan? Kenapa harus rumah kita tiap hari?"

Pertanyaan sederhana itu seperti tusukan jarum di hati Pak Hendra. Ia melirik keluar jendela. Dari kejauhan, menembus deretan atap seng pemukiman warga yang gelap gulita, terlihat pendar cahaya terang benderang dari kawasan bisnis dan apartemen mewah di pusat kota. Di sana, generator megah berbahan bakar solar melantunkan dengungan halus tanpa henti, memastikan pendingin udara tetap menyejukkan ruangan-ruangan megah dan lampu-lampu dekoratif tetap menyala tanpa peduli krisis negara.

Dunia memang kerap membagi kegelapan dan cahaya secara tidak adil.

"Mereka punya mesin genset sendiri, Nak. Mereka sanggup beli bahan bakarnya," jawab Pak Hendra lirih. "Kalau kita... ya harus sabar."

Lelah yang dirasakan Pak Hendra bukan lagi sekadar lelah fisik karena hawa gerah yang membakar kulit. Ini adalah lelah batin yang membusuk perlahan. Lelah memikirkan kipas angin dan kulkas satu-satunya yang kerap rusak akibat fluktuasi arus saat listrik tiba-tiba menyala. Lelah memikirkan tagihan yang tak kunjung turun meski listrik mati berkali-kali. Dan yang paling menyakitkan: lelah melihat anak-anaknya harus merusak mata mereka, belajar di bawah temaram lilin, merajut masa depan dalam kondisi yang remang-remang.

Pak Hendra bangkit berdiri dan berjalan menuju teras depan rumah.


Ia duduk di tangga semen yang dingin, membiarkan dadanya dihantam angin malam yang membawa aroma selokan dan tanah kering. Di sekelilingnya, Kampung Sukamaju tampak seperti desa mati di tengah zaman modern. Hanya pendar-pendar titik api lilin dan lampu minyak tanah yang menyala dari jendela-jendela rumah warga, mirip kunang-kunang kesepian yang terjebak dalam sangkar kegelapan.

Ia menengadah, menatap langit malam yang bersih dari polusi cahaya kota. Bintang-bintang justru tampak lebih jelas dari biasanya. Dalam hati, Pak Hendra berdoa dengan pasrah—berharap suatu hari nanti, para pemimpin di atas sana berhenti menimbun beban utang atas nama pembangunan yang tak pernah sampai ke rakyat kecil. Berharap suatu hari nanti, cahaya tidak lagi menjadi barang mewah yang harus dibayar dengan keringat dan air mata.

Ia menghela napas panjang, merogoh saku celana kainnya yang kusam, lalu mengeluarkan sebuah korek api kayu. Dengan jemari yang gemetar karena dingin dan lelah, ia memantik api untuk menyalakan sisa lilin pendek yang menempel di alas kaleng bekas. Nyala api kecil itu bergoyang diterpa angin malam, menyoroti wajahnya yang dipenuhi garis-garis ketegangan.

"Pak, lilin di dapur sudah mau habis," suara Bu Minah, istrinya, memecah kesunyian dari balik pintu kayu yang berderit.


Wajah wanitanya terlihat samar, terekspos remang-remang cahaya kemerahan. "Setrikaan arang juga sudah dingin. Baju sekolah Si Budi belum selesai dirapiin."

"Pakai yang ada dulu, Bu," sahut Pak Hendra pelan, berusaha menahan getar kekecewaan di suaranya. "Esok pagi Bapak coba minta sisa lilin ke warung Pak RT. Katanya listrik baru menyala besok sore... itu pun kalau janjinya tidak meleset lagi."

Bu Minah hanya mengangguk pasrah lalu kembali masuk ke dalam rumah. Tak ada bentakan, tak ada amarah—hanya keputusasaan yang sudah menjadi makanan sehari-hari.

Di dalam rumah, Budi, anak bungsunya yang baru duduk di bangku SD, terlihat menunduk di atas meja kayu lapuk. Mata bocah itu menyipit, berusaha membaca buku pelajaran sejarah di bawah pendar redup lampu minyak tanah. Asap hitam tipis mengelus hidungnya, meninggalkan jelaga halus di sekitar lubang hidung, namun jemarinya tetap tangkas mencoretkan catatan.

Pak Hendra melangkah masuk, dadanya makin sesak melihat pemandangan itu. Anak-anak di kota mungkin sedang belajar di bawah sinar lampu terang, ditemani pendingin ruangan dan komputer canggih. Sementara di sini, di Kampung Sukamaju, anak-anak harus bertaruh dengan rabun mata hanya untuk menuntaskan PR sekolah.

"Pembangunan katanya sudah merata," batin Pak Hendra pahit. "Tapi mengapa setiap kali gelap datang, hanya kampung kami yang terus-terusan dikorbankan?"

Ia berjalan mendekati jendela, memadamkan lilin kecilnya agar hemat, dan membiarkan matanya terbiasa dengan kegelapan. Lelah ini bukan lagi sekadar lelah fisik setelah seharian membanting tulang di ladang orang. Ini adalah lelah batin—lelah yang lahir dari ketidakberdayaan rakyat kecil yang selalu dituntut taat, namun terus-menerus dilupakan.

Malam semakin larut, dan Kampung Sukamaju tetap terlelap dalam gulita. Di dalam kegelapan itu, Pak Hendra tahu, bukan hanya lampu yang mati malam ini, melainkan sedikit demi sedikit kepercayaan rakyat kepada janji-janji manis di atas sana.

Pembuat : Aisha Nurhafiza & Erina Carissa Zafira

Kelas : IX C

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APA ITU PENYAKIT AIN,MENGAPA PENYAKIT AIN ITU PENYAKIT YANG MENGERIKAN DARIPADA CORONA {BY;ahmad hafi abdurrahman ixa}

larangan merokok