Langit tak pernah salah

 

Langit sore itu tampak mendung, seperti menahan tangis. Bayu duduk sendiri di bangku taman belakang rumah neneknya, tempat yang dulu jadi saksi tawa masa kecilnya bersama sang ayah.

Story pin image 

Sejak kepergian ayah dua tahun lalu karena kecelakaan kerja di laut, hidup Bayu berubah sunyi. Ibunya jarang pulang karena harus bekerja di luar kota, dan Bayu merasa dunia menjadi tempat yang terlalu besar untuk seorang anak usia 13 tahun.

“Ayah bilang, langit itu tidak pernah salah,” gumamnya pelan, menatap awan yang menggantung.

Dulu, setiap kali hujan turun di saat mereka berencana bermain bola atau memancing, ayahnya akan mengatakan hal itu: “Langit tidak pernah salah, Bayu. Mungkin dia tahu kita butuh istirahat. Atau mungkin dia sedang ingin bercerita lewat hujan.”

Story pin image 

Tapi Bayu masih belum bisa memahami kalimat itu. Apa yang benar dari kehilangan?

Nenek menghampirinya membawa secangkir teh hangat. Ia duduk diam di samping Bayu, memberi kehangatan tanpa banyak kata.

“Masih sering marah pada langit?” tanya nenek, lembut.

Bayu mengangguk pelan.

Nenek menatap langit yang perlahan berubah jingga. “Waktu nenek kehilangan kakekmu, langit juga menangis sepanjang hari. Nenek pun sempat menyalahkan semuanya, termasuk Tuhan, termasuk langit. Tapi makin lama, nenek sadar... langit hanya memantulkan apa yang ada di dalam hati kita.”

Bayu menoleh. “Maksudnya?”

“Kalau kamu sedih, langit terlihat sendu. Tapi kalau kamu mau memaafkan, langit akan kembali biru. Bukan karena dia berubah, tapi karena kamu yang berubah.”

Bayu terdiam. Angin sore mengelus wajahnya, membawa aroma tanah basah yang menenangkan.

This may contain: the street is wet and has some trees on it at night time, with lights shining in the distance 

“Jadi... langit memang tidak pernah salah?” tanyanya lirih.

Nenek mengangguk. “Yang sering keliru adalah kita yang belum bisa menerima bahwa semua hal terjadi dengan alasan. Bahkan kehilangan.”

Bayu menarik napas panjang. Matanya menatap langit yang mulai membuka celah cahaya jingga keemasan. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia tak merasa sendirian.

Di dalam hatinya, sebuah ruang kecil yang lama terkunci mulai terbuka. Dan di sana, suara ayah masih hidup, masih tertawa. Langit memang tidak salah. Ia hanya menunggu Bayu siap untuk mendengarkan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIPS MEMANAJEMEN WAKTU BELAJAR YANG EFEKTIF

PONDOK HQBS

Wisata Borneo